Di tengah hiruk-pikuk dunia yang semakin terpecah, di mana identitas sering dijadikan tembok dan perbedaan menjadi alasan untuk berjarak, kita sebagai umat Kristiani dipanggil untuk kembali kepada hal yang paling mendasar dari iman kita: kasih. Dalam kasih, segala perbedaan seharusnya tidak lagi menjadi jurang, tetapi jembatan. Dalam kasih, kita diingatkan bahwa di balik label denominasi, kita semua berakar pada satu sumber yang sama: Kristus yang bangkit dan hidup di antara kita.
Sebagai seorang Katolik, aku sering merenungkan bagaimana Yesus tidak pernah mendirikan batas-batas denominasi. Ia tidak pernah berkata, "Ikutilah Aku, tetapi pilihlah denominasi yang benar." Ia hanya berkata, "Ikutilah Aku." Ia tidak menuntut keseragaman lahiriah, tetapi pertobatan batin dan perubahan hati. Ia tidak mendirikan pagar di antara murid-murid-Nya, melainkan membasuh kaki mereka satu per satu, tanpa pandang siapa yang lebih saleh atau siapa yang akan mengkhianati-Nya. Dalam tindakan sederhana itu, Yesus mengajarkan bentuk pelayanan yang melampaui segala perbedaan.
Kendati demikian, sejarah panjang Gereja sering kali menampilkan wajah yang lain. Luka-luka perpecahan yang terjadi di antara umat Kristen, antara Katolik, Protestan, Ortodoks, dan berbagai denominasi lainnya, adalah luka yang nyata. Luka itu bukan sekadar sejarah, tetapi juga realitas yang masih kita rasakan hingga kini. Sering kali, kita saling memandang dengan curiga, menilai satu sama lain berdasarkan cara berdoa, simbol, atau doktrin yang sedikit berbeda. Padahal, di tengah dunia yang semakin kehilangan arah, justru kita semua dipanggil untuk menjadi terang yang satu, bukan lilin-lilin yang bersaing dalam cahaya kecilnya sendiri.
Saya pernah mengalami sendiri bagaimana kasih dapat menembus sekat denominasi itu. Beberapa tahun lalu, saat banjir besar melanda sebuah daerah di pinggiran kota, aku ikut dalam tim relawan dari parokiku. Kami datang dengan semangat untuk membantu, tanpa berpikir siapa yang akan kami temui. Saat tiba di lokasi, aku terkejut karena sebagian besar relawan lain yang sudah lebih dulu bekerja di sana berasal dari gereja Protestan setempat. Mereka menyambut kami tanpa rasa curiga, dan kami pun bekerja bersama: membagikan makanan, membersihkan rumah-rumah, mendengarkan cerita warga yang kehilangan segalanya. Tak ada yang bertanya siapa dari gereja mana. Di tengah lumpur dan air mata, kami hanya tahu satu hal: bahwa Kristus hadir di antara kami.
Malam hari, setelah semua warga tertidur, kami berkumpul di ruang sekolah darurat. Salah satu dari mereka, seorang pendeta muda, mengajak kami berdoa bersama. Ia berkata, "Malam ini, kita tidak berdoa sebagai Katolik atau Protestan. Kita berdoa sebagai anak-anak Tuhan yang bersyukur karena masih diberi kesempatan untuk melayani." Saat doa mengalun, aku merasakan sesuatu yang sulit dijelaskan. Di ruangan sederhana itu, seolah dinding perbedaan runtuh, dan hanya ada satu tubuh Kristus yang sedang berlutut di hadapan Bapa. Aku sadar, mungkin beginilah seharusnya Gereja hadir: bukan sekadar di altar atau di balik tembok, tetapi di tengah penderitaan dunia, membawa harapan dan kasih yang nyata.
Pengalaman itu membuatku merenung tentang arti sejati pelayanan. Dalam Injil, Yesus berkata, "Aku datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani." (Markus 10:45). Kata-kata itu begitu sederhana, tetapi dampaknya amat dalam. Ia datang bukan membawa agenda kekuasaan atau sistem keagamaan, melainkan hati yang penuh belas kasih. Pelayanan, dalam terang Kristus, selalu berakar pada kasih yang tak mencari imbalan dan tak memandang perbedaan. Ketika kita melayani bersama, kita tidak hanya membantu sesama, tetapi juga menyembuhkan luka-luka dalam tubuh Kristus sendiri yang telah lama terbelah.
Dalam tradisi Katolik, pelayanan sering disebut sebagai diakonia, yaitu wujud nyata dari iman yang hidup. Di sisi lain, saudara-saudara Protestan sering menekankan pelayanan sebagai panggilan pribadi yang lahir dari relasi langsung dengan Tuhan. Dua cara pandang ini sebenarnya saling melengkapi. Kita membutuhkan struktur dan ketertiban seperti yang diajarkan Gereja Katolik, tetapi juga semangat pribadi dan spontanitas seperti yang dihidupi banyak jemaat Protestan. Bila keduanya bersatu, lahirlah pelayanan yang penuh daya: teratur namun hidup, terencana namun penuh Roh.
Mungkin inilah yang dimaksud Kristus ketika berdoa dalam Yohanes 17:21, "Supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau." Doa ini bukan sekadar harapan sentimental, melainkan panggilan untuk bertindak. Kesatuan tidak selalu berarti seragam, tetapi berjalan bersama dengan saling menghormati. Kita mungkin berbeda dalam cara berdoa, dalam struktur gereja, atau dalam tafsir teologi, tetapi kita dapat bersatu dalam pelayanan kasih kepada dunia yang terluka.
Dunia hari ini membutuhkan kesaksian seperti itu. Dunia tidak membutuhkan lebih banyak perdebatan antar-denominasi; dunia membutuhkan lebih banyak tangan yang mau mengulurkan bantuan. Dunia tidak menunggu kita saling membuktikan siapa yang paling benar, tetapi siapa yang paling rela mencintai. Ketika orang-orang melihat Katolik dan Protestan bekerja berdampingan, baik itu membersihkan sungai, mengajar anak-anak miskin, atau mengunjungi orang sakit, mereka akan melihat Kristus yang hidup, bukan sekadar ajaran tentang-Nya.
Pelayanan bersama juga menjadi cara untuk saling belajar. Dari saudara Protestan, aku belajar tentang kehangatan dalam persekutuan, keberanian bersaksi secara terbuka, dan keyakinan bahwa Kitab Suci adalah sumber kekuatan sehari-hari. Dari tradisi Katolik, saya membawa kekayaan sakramental, kedalaman doa, dan kesadaran bahwa Gereja adalah tubuh yang besar dan bersejarah. Ketika keduanya bertemu, saya tidak merasa kehilangan identitas diri sebagai Katolik, justru identitas itu diperkaya. Iman tidak lagi menjadi tembok pertahanan, melainkan taman di mana bunga-bunga dari berbagai tradisi dapat tumbuh bersama.
Kadang, dalam keheningan doa, aku membayangkan Kristus memandang kita dari salib-Nya. Ia melihat anak-anak-Nya yang masih berdebat tentang tafsir dan bentuk ibadah, padahal darah-Nya telah menebus semua. Saya yakin, yang paling menyentuh hati Kristus bukanlah siapa yang paling tepat dalam teologi, melainkan siapa yang paling setia menghidupi kasih-Nya. Ketika kita melayani bersama, ketika kita menghapus air mata orang lain, di situlah Kristus tersenyum. Karena pada akhirnya, kasih yang kita bagi kepada sesama adalah bentuk ibadah yang paling sejati.
Aku teringat perkataan Santo Yohanes Paulus II: "Persaudaraan sejati tidak lahir dari kompromi, tetapi dari perjumpaan." Perjumpaan itulah yang harus kita hidupi setiap hari. Perjumpaan di ladang pelayanan, di mana kita menaruh tangan bersama di atas luka dunia yang sama. Di situ kita belajar bahwa iman bukan untuk memisahkan, tetapi untuk menyembuhkan. Ketika kita bersama-sama mengangkat beban sesama, batas antara "kami" dan "mereka" perlahan hilang, dan hanya tersisa satu kata: "kita."
Mungkin dunia tidak akan langsung berubah. Mungkin masih ada dinding yang tinggi di antara denominasi, dan prasangka yang sulit dihapus. Tetapi setiap kali seorang Katolik dan seorang Protestan bekerja bersama, setiap kali mereka berdoa atau berbagi kasih, dunia sedikit lebih damai, dan doa Yesus sedikit lebih nyata.
Saya percaya bahwa pelayanan bersama adalah bentuk ekumenisme yang paling murni. Bukan pertemuan di ruang konferensi, bukan dokumen teologis yang disepakati, tetapi tangan yang kotor karena membantu, lutut yang lelah karena melayani, dan hati yang dipenuhi kasih karena tahu bahwa di dalam setiap tindakan kecil itu, Kristus hadir.
Dan mungkin, di tengah dunia yang terluka, itulah wajah Gereja yang sejati, bukan Gereja yang sibuk membuktikan diri, tetapi Gereja yang bersujud di hadapan dunia dengan belas kasih. Gereja yang tahu bahwa satu-satunya bahasa universal bukanlah bahasa doktrin, tetapi bahasa kasih. Gereja yang berjalan bersama, melintasi segala denominasi, menuju satu tujuan: menghadirkan Kerajaan Allah di bumi, di mana kasih menjadi hukum tertinggi, dan Kristus menjadi pusat segala sesuatu.
Pegiat di Komisi Perdamaian dan Keutuhan Ciptaan (KPKC) Kevikepan Semarang
